ku tercipta hanya untukmu
seluruh jiwa ini milikmu
tak ada yang bisa mengambilnya
selain dirimu..
ku terlahir hanya untukmu
raga ini tak kumiliki namun semua milikmu
kau hanya kau yang ku mau
tak ada yang lain yang kuingini..
kau
hanya kau yang bisa buat ku begini
kau
hanya kau yang mampu miliki diri ini
kau
untukmu kupersembahkan
seluruh jiwa,rasa,dan pengorbanan
Selasa, 14 Juni 2011
Perjalanan Separuh Kerinduan
Haruskah geliat rindu yang kau simpan
pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi
membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan
tepian sebuah perjalanan panjang?
Kegetiran ini, katamu, melelahkan
dan membuatmu
kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit
yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu
serupa hujan membasahi belantara tak berujung
Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan
adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,
kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita
untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu
Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala
lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:
“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,
dalam rindu yang menjelma
menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”
pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi
membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan
tepian sebuah perjalanan panjang?
Kegetiran ini, katamu, melelahkan
dan membuatmu
kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit
yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu
serupa hujan membasahi belantara tak berujung
Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan
adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,
kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita
untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu
Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala
lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:
“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,
dalam rindu yang menjelma
menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”
SAAT INDAH MENGENANGMU
Kenangan itu selalu berjalan tertatih dalam benak
meniti sebuah perjalanan panjang tentang sebuah rasa yang tertinggal
pada relung hati dimana sunyi bersemayam bersama rindu
“Kadangkala,” katamu,”pada lirih sajak yang kuterbangkan bersama angin
senantiasa ada harap disana untuk menghampirimu di suatu ketika
sembari bercerita tentang janji, obsesi memiliki juga cinta”
Ah, belahan jiwaku,
Pesonamu selalu memercik pada riuh rendah pundak Malioboro,
denting syahdu gamelan, warna coklat tua gudeg yang nikmat,
gemulai penari keraton, pepohonan rindang di Bulaksumur dan
keramaian pasar Beringharjo.
Kamu ada, bersama segala keindahan yang menyertai
gigil kangen saat angin lembut yang membawa sajakmu
menerpa kalbu, perlahan, saat mengenangmu, saat mengingatmu
meniti sebuah perjalanan panjang tentang sebuah rasa yang tertinggal
pada relung hati dimana sunyi bersemayam bersama rindu
“Kadangkala,” katamu,”pada lirih sajak yang kuterbangkan bersama angin
senantiasa ada harap disana untuk menghampirimu di suatu ketika
sembari bercerita tentang janji, obsesi memiliki juga cinta”
Ah, belahan jiwaku,
Pesonamu selalu memercik pada riuh rendah pundak Malioboro,
denting syahdu gamelan, warna coklat tua gudeg yang nikmat,
gemulai penari keraton, pepohonan rindang di Bulaksumur dan
keramaian pasar Beringharjo.
Kamu ada, bersama segala keindahan yang menyertai
gigil kangen saat angin lembut yang membawa sajakmu
menerpa kalbu, perlahan, saat mengenangmu, saat mengingatmu
TENTANG DIA, YANG BERJARAK DENGAN RINDU PADAMU
Barangkali, kepanikan yang melanda dirimu
hanyalah serupa gerhana
yang melintas sekilas
lalu pergi meninggalkan sebaris jelaga di hatimu
bersama tangis getir disepanjang jejaknya
Sementara dia, yang berjarak dengan rindu padamu
tersenyum sembari membawa cahaya musim semi
meninggalkan sisa luka di tepian batinmu
dan airmata yang mengalir di sepanjang sungai kenangan
serta rasa sesal pada harapan dan cinta
yang telah kau semai diam-diam di ladang impian
“Barangkali”,katanya lirih,”tempatku pulang,
ada disana dan bukan disini”
Dan rona merah jambu diwajahmu sontak berubah
jadi selaksa awan kelam
yang luruh satu-satu menjelma benang-benang hujan
menggenangi palung jiwamu yang mendadak rapuh
dan lunglai tanpa daya
“Tempatnya berlabuh seharusnya pada dermaga ini,” tuturmu sedih
bersama embun yang meruap perlahan
dan impian lumat dalam gigil menggetarkan
yang membingkai selasar hatimu
hanyalah serupa gerhana
yang melintas sekilas
lalu pergi meninggalkan sebaris jelaga di hatimu
bersama tangis getir disepanjang jejaknya
Sementara dia, yang berjarak dengan rindu padamu
tersenyum sembari membawa cahaya musim semi
meninggalkan sisa luka di tepian batinmu
dan airmata yang mengalir di sepanjang sungai kenangan
serta rasa sesal pada harapan dan cinta
yang telah kau semai diam-diam di ladang impian
“Barangkali”,katanya lirih,”tempatku pulang,
ada disana dan bukan disini”
Dan rona merah jambu diwajahmu sontak berubah
jadi selaksa awan kelam
yang luruh satu-satu menjelma benang-benang hujan
menggenangi palung jiwamu yang mendadak rapuh
dan lunglai tanpa daya
“Tempatnya berlabuh seharusnya pada dermaga ini,” tuturmu sedih
bersama embun yang meruap perlahan
dan impian lumat dalam gigil menggetarkan
yang membingkai selasar hatimu
PURNAMA TERISAK DI PUCUK MALAM
Purnama yang mengapung di rangka langit malam ini
seperti bercerita
tentang sebuah kehilangan yang pedih
dan jejak-jejak luka yang tertinggal
pada sepanjang bias cahaya lembutnya
Purnama yang menggigil di kelam malam
adalah pilu kegetiran yang kau sematkan pelan-pelan
pada rerumputan pekarangan
dimana embun dini hari
menyesapnya dalam-dalam, lalu membawanya pergi
seiring terik mentari esok pagi
Purnama yang menangis terisak di pucuk malam ini
mengantar segala nyanyian duka dan airmatamu
mengalir di sepanjang sungai kenangan
menuju muara yang jauh
dimana, katamu dengan lidah kelu,
“Aku tak tahu, apakah disana segalanya kelak
menjadi hangat mendamaikan
atau malah menjadi hangus tak bersisa”
seperti bercerita
tentang sebuah kehilangan yang pedih
dan jejak-jejak luka yang tertinggal
pada sepanjang bias cahaya lembutnya
Purnama yang menggigil di kelam malam
adalah pilu kegetiran yang kau sematkan pelan-pelan
pada rerumputan pekarangan
dimana embun dini hari
menyesapnya dalam-dalam, lalu membawanya pergi
seiring terik mentari esok pagi
Purnama yang menangis terisak di pucuk malam ini
mengantar segala nyanyian duka dan airmatamu
mengalir di sepanjang sungai kenangan
menuju muara yang jauh
dimana, katamu dengan lidah kelu,
“Aku tak tahu, apakah disana segalanya kelak
menjadi hangat mendamaikan
atau malah menjadi hangus tak bersisa”
JIKA SUATU KETIKA KITA TAK BERSAMA LAGI…
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-pertengkaran kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-pertengkaran kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…
Meniti Garis Edar Pesonamu
Bagai harum hutan pinus di sisi bukit atau
wangi melati di pekarangan
Aroma cinta yang kau taburkan
melayang lembut dengan konfigurasi warna-warni
pada lanskap kesunyian yang terhampar sepanjang perjalanan
pada atmosfir lara yang telah kita hirup dengan nafas tersengal
juga di sepanjang selasar kenangan dimana luka itu kita tinggalkan disana
“Melepasmu,” tuturmu dengan mata basah, “laksana mencabut cengkraman kuat akar sebatang pohon kecil dari tanah”
Menghentak. Memilukan. Menyakitkan.
Dan pada lengkung bianglala yang membentang di horison langit
hingga ujung batas cakrawala
Aku akan meniti garis edar pesonamu yang tak jua pudar
sembari menggenggam perih dan sesak rindu sekaligus
serta harapan yang luruh sia-sia
juga keheningan yang mencekam disudut hat
wangi melati di pekarangan
Aroma cinta yang kau taburkan
melayang lembut dengan konfigurasi warna-warni
pada lanskap kesunyian yang terhampar sepanjang perjalanan
pada atmosfir lara yang telah kita hirup dengan nafas tersengal
juga di sepanjang selasar kenangan dimana luka itu kita tinggalkan disana
“Melepasmu,” tuturmu dengan mata basah, “laksana mencabut cengkraman kuat akar sebatang pohon kecil dari tanah”
Menghentak. Memilukan. Menyakitkan.
Dan pada lengkung bianglala yang membentang di horison langit
hingga ujung batas cakrawala
Aku akan meniti garis edar pesonamu yang tak jua pudar
sembari menggenggam perih dan sesak rindu sekaligus
serta harapan yang luruh sia-sia
juga keheningan yang mencekam disudut hat
Langganan:
Postingan (Atom)