Selasa, 14 Juni 2011

Hampa ( Chairil Anwar )

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Penerimaan ( Chairil Anwar )

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Aku ( Chairil Anwar )

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Perelaan hati

Sangat pedih hati ini
Hilang semua janji, semua mimpi
Serasa terbentur puing-puing bangunan
Yang meluluh lantakkan hati dan jiwa ini

          Dia kini telah pergi jauh
          Terbang tinggi tinggalkan aku
          Kuingin menyusulnya disana
          Tapi apa daya, kau telah bersamanya

Kan kucoba untuk merelakan semua
Aku juga bahagia melihat kau bahagia
Karena kau pelangi, dengan warnamu hiasi hati ini
Karena kau selalu ada di palung hati

Mengaji (puisi anak)

Masih kecil diajar mengaj
Besok kalau sudah besar supaya mengerti
Mengajiku mudah syaratnya
Asalkan taat kepada gurunya

          Agama Islam agama suci
          Siapa yang tidak mengaji pasti akan rugi
          Rugi dunia tidak dapat apa-apa
          Rugi akhirat masuk neraka

Neraka itu berupa api
Kalau disiksa tiada henti-henti
Maka, teman ayo mengaji
Sebelum datangnya mati

Hampa tanpamu

Sekarang suda tak seperti dulu lagi
Saat-saat kita selalu bersama-sama
Karena kini kau telah pergi
Pergi dengan dirinya

      Aku melihat semua itu
      Bagai langit runtuhan dunia jiwaku
      Terhimpit gelapnya kepedihan batinku
      luluhkan segala makna sucinya hadirku

               Mungkin suatu hari nanti kita dipertemukan kembali
               Untuk selalu bersama-sama lagi
               Dan aku percaya akan hal itu 
               Karena tak ada yang melebihi kekuasaanNYA 

Missing You



Missing You

masih saja ku merindu mu..
meski langit dan bumi tak merestu..
meski hati dan logika tak menyatu..
masih saja ku merindu mu..

ahhh..
lelah hati ku terus bertarung bersama logika..
mengapa tak pernah kutemukan jawaban
siapa yang mestinya ku ikuti??

Logika yang tak pernah mengizinkan rindu menghinggapi pikiran ku..
Ataukah..
Sang hati yang selalu meminta ku mengikuti kata-katanya ??

Lagi…lagi. ..
Aku bingung!
Sedang kau masih disana
Terdiam dan tak mau tahu segala gelisah ku..