Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Selasa, 14 Juni 2011
Penerimaan ( Chairil Anwar )
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Aku ( Chairil Anwar )
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Perelaan hati
Sangat pedih hati ini
Hilang semua janji, semua mimpi
Serasa terbentur puing-puing bangunan
Yang meluluh lantakkan hati dan jiwa ini
Dia kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkan aku
Kuingin menyusulnya disana
Tapi apa daya, kau telah bersamanya
Kan kucoba untuk merelakan semua
Aku juga bahagia melihat kau bahagia
Karena kau pelangi, dengan warnamu hiasi hati ini
Karena kau selalu ada di palung hati
Hilang semua janji, semua mimpi
Serasa terbentur puing-puing bangunan
Yang meluluh lantakkan hati dan jiwa ini
Dia kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkan aku
Kuingin menyusulnya disana
Tapi apa daya, kau telah bersamanya
Kan kucoba untuk merelakan semua
Aku juga bahagia melihat kau bahagia
Karena kau pelangi, dengan warnamu hiasi hati ini
Karena kau selalu ada di palung hati
Mengaji (puisi anak)
Masih kecil diajar mengaj
Besok kalau sudah besar supaya mengerti
Mengajiku mudah syaratnya
Asalkan taat kepada gurunya
Agama Islam agama suci
Siapa yang tidak mengaji pasti akan rugi
Rugi dunia tidak dapat apa-apa
Rugi akhirat masuk neraka
Neraka itu berupa api
Kalau disiksa tiada henti-henti
Maka, teman ayo mengaji
Sebelum datangnya mati
Besok kalau sudah besar supaya mengerti
Mengajiku mudah syaratnya
Asalkan taat kepada gurunya
Agama Islam agama suci
Siapa yang tidak mengaji pasti akan rugi
Rugi dunia tidak dapat apa-apa
Rugi akhirat masuk neraka
Neraka itu berupa api
Kalau disiksa tiada henti-henti
Maka, teman ayo mengaji
Sebelum datangnya mati
Hampa tanpamu
Sekarang suda tak seperti dulu lagi
Saat-saat kita selalu bersama-sama
Karena kini kau telah pergi
Pergi dengan dirinya
Aku melihat semua itu
Bagai langit runtuhan dunia jiwaku
Terhimpit gelapnya kepedihan batinku
luluhkan segala makna sucinya hadirku
Mungkin suatu hari nanti kita dipertemukan kembali
Untuk selalu bersama-sama lagi
Dan aku percaya akan hal itu
Karena tak ada yang melebihi kekuasaanNYA
Saat-saat kita selalu bersama-sama
Karena kini kau telah pergi
Pergi dengan dirinya
Aku melihat semua itu
Bagai langit runtuhan dunia jiwaku
Terhimpit gelapnya kepedihan batinku
luluhkan segala makna sucinya hadirku
Mungkin suatu hari nanti kita dipertemukan kembali
Untuk selalu bersama-sama lagi
Dan aku percaya akan hal itu
Karena tak ada yang melebihi kekuasaanNYA
Missing You
Missing You
masih saja ku merindu mu..
masih saja ku merindu mu..
meski langit dan bumi tak merestu..
meski hati dan logika tak menyatu..
masih saja ku merindu mu..
ahhh..
lelah hati ku terus bertarung bersama logika..
mengapa tak pernah kutemukan jawaban
siapa yang mestinya ku ikuti??
Logika yang tak pernah mengizinkan rindu menghinggapi pikiran ku..
Ataukah..
Sang hati yang selalu meminta ku mengikuti kata-katanya ??
Lagi…lagi. ..
Aku bingung!
Sedang kau masih disana
Terdiam dan tak mau tahu segala gelisah ku..
Langganan:
Postingan (Atom)